Nifas (Tinjauan Medis)

Lama masa nifas, bisa berbeda-beda pada setiap ibu. Namun, cepat lambatnya darah berhenti, bukan merupakan indikasi singkat-lamanya masa nifas itu sendiri.

Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari menurut hitungan awam merupakan masa nifas yang penting sekali untuk terus dipantau. Nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid. Darah nifas mengandung trombosit, sel-sel degeneratif, sel-sel nekrosis atau sel mati, dan sel-sel endometrium sisa. Mungkin ada ibu yang merasa heran ketika darah nifasnya cepat berhenti, sementara ada pula yang waswas dan khawatir karena darah nifasnya masih keluar melewati masa 40 hari.

Bila Rahim Bersih, Bisa Lebih Cepat
Cepat ataupun lambat, darah nifas harus lancar mengalir keluar. ”Bila tidak, misalnya karena kasus tertutupnya mulut rahim, maka kuman dapat tumbuh subur di dalam rahim tersebut sehingga bisa terjadi infeksi,” ungkap dr. Muhamad Taufik CH, SpOG, Direktur RS Bersalin Putra Dalima, Bumi Serpong Damai, Tangerang.
Darah akan cepat berhenti jika jumlah yang keluar memang sedikit tapi optimal, atau keluar sekaligus banyak dan berhenti sebelum masa 40 hari. Hal ini menurut Taufik, salah satunya ditentukan oleh penanganan yang diberikan dokter. Bila setelah persalinan muncul indikasi tertentu yang mengharuskan dokter membersihkan rahim ibu, maka darah yang keluar di masa nifas kemungkinan tak begitu banyak dan bisa lebih cepat selesai. Dengan kata lain, proses pembersihan rahim membuat sisa darahnya tinggal sedikit.
Ibu yang bersalin melalui operasi sesar semestinya juga memiliki darah nifas yang lebih sedikit dan masa perdarahannya singkat. Pada operasi sesar, umumnya rahim ibu dibersihkan, meski tak semua dokter melakukan hal ini.
Cara dokter menjaga kontraksi rahim pada kasus-kasus dengan perdarahan postpartum (setelah persalinan) adalah dengan kompresi atau menekan rahim dari luar di bagian perut. Bila dicurigai ada ari-ari yang tertinggal, tangan dokter yang steril masuk ke dalam vagina dan rahim untuk membersihkannya.
Selain itu, kontraksi juga dijaga dengan obat-obatan pengeras rahim. Akibatnya, jumlah darah nifas tak begitu banyak dan masa perdarahan bisa berlangsung lebih singkat. Ini juga menandakan kontraksi dan pembersihan rahimnya berlangsung baik (rahim mengecil), seperti bisa terlihat melalui pemeriksaan USG. Biasanya pemeriksaan dilakukan seminggu sesudah melahirkan. Jika aman, maka diperiksa sebulan kemudian.
Yang harus dipahami, meskipun perdarahan nifas berlangsung singkat, misalnya hanya 4 minggu, maka kita sebaiknya tetap menganggap masa nifas belum selesai. ”Masa nifas tetap saja sebaiknya berlangsung selama 40 hari, baik bagi ibu yang melahirkan normal ataupun sesar,” tandas Taufik, ”sebab meskipun gejala nifasnya sudah berlalu, belum tentu rahimnya sudah kembali ke posisi semula. Selain itu, masih banyak faktor yang bisa terjadi di masa nifas tersebut.”

Lebih Lama, Berarti Ada Sesuatu
Sebaliknya, perdarahan nifas juga bisa berlangsung lebih lama dari 40 hari. Keadaan ini jelas harus disikapi secara hati-hati karena perdarahan panjang biasanya terjadi jika proses kontraksi rahim berlangsung tidak semestinya atau lemah. Penyebabnya, bisa karena ada sesuatu yang tersisa dalam rahim, semisal ari-ari, atau selaput ketuban yang kemudian membungkus sisa darah yang membeku sehingga bekuan darah tersebut jadi benda asing dalam rahim. Selain itu, bisa juga karena infeksi perpuralis yang menyebabkan darah lama berhenti atau anemia yang membuat kekuatan kontraksi rahim kurang dan ibu terus-menerus letih, sehingga mempengaruhi faktor psikis dan emosionalnya.
Namun, walaupun jarang sekali terjadi, menurut Taufik, adakalanya perdarahan setelah masa nifas itu ternyata darah haid. Jadi, bisa saja setelah 40 hari ibu ternyata sudah mulai haid lagi. Dokterlah yang bisa memastikan apakah darah yang keluar itu bukanlah darah nifas lagi.
Mengapa haid seperti ini jarang terjadi? ”Karena umumnya semasa menyusui, pola haid akan berubah. Ada ibu yang belum haid selama 3 bulan, 8 bulan atau bahkan sampai 2 tahun setelah masa nifas. Hal ini bervariasi tergantung pada hormon menyusui.”
Tidak masalah bila sehabis melahirkan ibu belum mendapat haid segera. Ini bukan berarti darah haidnya tak keluar, melainkan tidak terjadinya ovulasi, sehingga darah haid belum dibentuk.
Selain itu, pada ibu yang menyusui, adanya rangsangan dari puting susu dapat membuat rahim cepat mengeras dan berkontraksi. Jadi selain berpengaruh pada haid yang tak segera keluar, proses menyusui juga mempengaruhi mengerasnya rahim.

Resiko Masa Nifas
Masa nifas merupakan masa yang rawan karena ada beberapa risiko yang mungkin terjadi pada masa itu, antara lain:
* Anemia
Risiko ini terjadi bila ibu mengalami perdarahan yang banyak, apalagi bila sudah sejak masa kehamilan kekurangan darah terjadi. Di masa nifas, anemia bisa menyebabkan rahim susah berkontraksi. Ini karena darah tak cukup memberikan oksigen ke rahim. Ibu yang mengidap anemia dengan kondisi membahayakan, semisal mengalami perdarahan postpartum, maka harus segera diberi transfusi darah. Jika kondisinya tidak berbahaya maka cukup ditolong dengan pemberian obat-obatan penambah darah yang mengandung zat besi.
* Eklampsia dan preeklampsia
Biasanya orang menyebutnya keracunan kehamilan. Ini ditandai dengan munculnya tekanan darah tinggi, oedema atau pembengkakan pada tungkai, dan bila diperiksa di laboratorium urinnya terlihat mengandung protein. Dikatakan eklampsia bila sudah terjadi kejang. Kalau hanya gejala atau tanda-tandanya saja dikatakan preeklampsia. Asal tahu saja, gangguan ini merupakan penyebab kematian ibu yang nomor satu. Penyebabnya sendiri sebetulnya masih berupa silang pendapat. Ada yang mengatakan akibat kekurangan asam arakidonat, dari kacang-kacangan, ada juga yang menduga akibat stres pada ibu dan faktor emosional lainnya. Selama masa nifas di hari ke-1 sampai 28, ibu harus mewaspadai munculnya gejala preeklampsia. Jika keadaannya bertambah berat bisa terjadi eklampsia, dimana kesadaran hilang dan tekanan darah meningkat tinggi sekali. Akibatnya, pembuluh darah otak bisa pecah, terjadi oedema pada paru-paru yang memicu batuk berdarah. Semuanya ini bisa menyebabkan kematian.
* Perdarahan postpartum
Perdarahan ini bisa terjadi segera begitu ibu melahirkan. Terutama di dua jam pertama yang kemungkinannya sangat tinggi. Itulah makanya, selama 2 jam pertama setelah bersalin, ibu belum boleh keluar dari kamar bersalin dan masih dalam pengawasan. ”Yang diperhatikan adalah tinggi rahim, ada perdarahan atau tidak, lalu tekanan darah dan nadinya,” ujar Taufik. Kalau terjadi perdarahan, maka tinggi rahim akan bertambah naik, tekanan darah menurun, dan denyut nadi ibu menjadi cepat. Normalnya, tinggi rahim setelah melahirkan adalah sama dengan pusar atau 1 sentimeter di atas pusar. Adakalanya perdarahan yang terjadi tidak terlihat karena darah mengumpul di rahim, jadi begitu keluar akan keluar cukup deras. Ini sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan kematian. Ada pula perdarahan postpartum yang baru terjadi di hari kedua atau ketiga. Gejalanya sama. Itulah mengapa, setelah melahirkan ibu perlu dirawat selama 2 hari untuk memantau ada tidaknya perdarahan, dengan menilai tensi darah dan nadinya.
* Depresi masa nifas
”Depresi di masa nifas seharusnya dikenali oleh suami dan juga keluarga. Gejalanya sama dengan depresi prahaid. Ini karena pengaruh perubahan hormonal, adanya proses involusi, dan ibu kurang tidur serta lelah karena mengurus bayi, dan sebagainya. Depresi juga biasanya timbul jika ibu dan keluarganya dililit konflik rumah tangga, anak yang lahir tak diharapkan, keadaan sosial ekonominya lemah, atau trauma karena telah melahirkan anak cacat.” Depresi masa nifas terjadi terutama di minggu-minggu pertama setelah melahirkan, dimana kadar hormon masih tinggi. Gejalanya adalah gelisah, sedih, dan ingin menangis tanpa sebab yang jelas. Tingkatannya pun bermacam-macam, mulai dari neurosis atau gelisah saja yang disertai kelainan tingkah laku, sampai psikosis seperti penderita sakit jiwa dan kadang-kadang sampai tak sadar, seperti meracau, mengamuk, dan skizofrenia. Situasi depresi ini akan sembuh bila ibu bisa beradaptasi dengan situasi nyatanya. Untuk mengatasinya, ibu dianjurkan untuk tidur cukup, tidak dibebani banyak pikiran misalnya karena ASI tidak keluar, banyak bergerak dan beraktivitas seperti senam nifas, jalan pagi, menyapu rumah dan lainnya, sehingga proses sirkulasi darah menjadi baik. Oleh dokter, biasanya ibu akan diberi vitamin C dosis tinggi, obat-obatan penenang dan juga penambah darah.
* Infeksi masa nifas
Pada saat nifas, adanya darah yang keluar sebetulnya merupakan proses pembersihan rahim dari sel-sel sisa jaringan, darah, lekosit, dan lainnya. Oleh sebab itu, di masa nifas ini ibu belum boleh melakukan hubungan seksual. Alasannya, kotoran yang seharusnya keluar dari rahim ibu akan kembali terbawa ke dalam dan akhirnya menimbulkan infeksi. Kuman juga bisa menempel di ekor sperma yang ”larinya” cepat. Selain itu, selama masa nifas dinding rahim belum begitu kuat. Juga, mulut rahim belum menutup sempurna seperti saat sebelum melahirkan. Jika infeksi terjadi, ibu mengalami gejala demam tinggi dan nifasnya berbau busuk. Selain itu rahim bisa menjadi lembek dan tak berkontraksi sehingga bisa terjadi perdarahan. Meski infeksi ini jarang berakibat fatal, tapi bila terjadi komplikasi bisa menyebabkan kematian.

Tahapan Masa Nifas
Proses keluarnya darah nifas atau lokia, menurut Taufik, terdiri atas 4 tahapan:
I. Lokia lubra (merah)
Darah yang keluar berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium (kotoran bayi saat dalam kandungan). Itulah mengapa, darah nifas berpotensi mengandung banyak kuman. Lamanya masa lokia lubra ini biasanya sebentar, sekitar seminggu.
II. Lokia sanguelenta
Darah yang keluar berwarna merah dan berlendir. Dari lokia lubra ke sanguelenta lamanya sekitar 1-2 minggu.
III. Lokia serosa
Dua minggu berikutnya, cairan yang keluar berwarna kekuningan. Kandungannya sekarang berupa jaringan serosa atau sisa-sisa pengaruh hormon dan lainnya.
IV. Lokia alba
Cairan yang keluar sudah berwarna putih biasa dan bening. Ini normal dan tandanya sudah memasuki tahap pemulihan. Keempat tahapan tersebut sebetulnya memakan waktu berkisar 6 minggu. Kecuali kalau saat itu terjadi infeksi.

3 Proses Penting Pada Masa Nifas
# Pengecilan rahim atau involusi
”Rahim adalah organ tubuh yang spesifik dan aneh. Bisa mengecil dan membesar dengan menambah atau mengurangi jumlah selnya. Pada wanita tak hamil, berat rahim sekitar 30 gr, kurang lebih sebesar telur ayam atau bebek. Selama kehamilan, rahim makin lama makin membesar,” urai Taufik.
Bentuk otot rahim mirip jala berlapis tiga dengan serat-seratnya yang melintang kanan, kiri dan transversal. Di antara otot-otot tersebut ada pembuluh darah yang mengalirkan darah ke ari-ari. Setelah ari-ari lepas, otot rahim akan berkontraksi atau mengerut sehingga pembuluh darah terjepit dan perdarahan berhenti. Bila rahim tidak mengerut, seperti pada kasus atenia urteri atau hipotonia urteri, pembuluh darah masih terbuka dan darah tetap mengalir keluar. Keadaan seperti itu tentu sangat berbahaya, makanya begitu bayi dan plasenta dilahirkan, dokter berusaha membuat rahim kembali mengeras (berkontraksi), sehingga otot-otot rahim mengerut semua, pembuluh darah rahim terjepit, dan darah berhenti mengalir. Kalau tidak, maka bisa terjadi perdarahan. Setelah bayi keluar umumnya berat rahim menjadi sekitar 1000 gr. Setelah 5-7 hari kemudian beratnya berkurang jadi 500 gram. Sekitar 2 minggu beratnya sekitar 300 gram. Jadi secara alamiah rahim akan kembali mengecil perlahan-lahan dan ke bentuknya semula. Setelah 6 minggu beratnya sudah sekitar 40-60 gram. Ini dianggap masa nifas sudah selesai. Namun, sebetulnya rahim akan kembali ke posisi normal kembali dengan berat 30 gr sekitar 3 bulan kemudian setelah masa nifas. Selama masa pemulihan 3 bulan ini, bukan hanya rahim saja yang kembali normal tapi juga kondisi tubuh ibu secara keseluruhan.
# Darah kembali mengental (hemokonsentrasi)
Selama hamil, darah ibu relatif lebih encer, karena cairan darah ibu banyak, sementara sel darahnya berkurang. Bila diperiksa kadar hemoglobinnya (Hb) akan tampak sedikit penurunan dari angka normal, sebesar 11-12 gr persen. Kalau hemoglobinnya terlalu rendah maka bisa terjadi anemia atau kekurangan darah.
Oleh karena itu, selama hamil ibu perlu diberi obat-obatan penambah darah sehingga sel-sel darahnya bertambah dan konsentrasi darah atau hemoglobinnya normal, tidak terlalu rendah. Nah, setelah melahirkan, sistem sirkulasi darah ibu akan kembali seperti semula. Darah kembali mengental, di mana kadar perbandingan sel darah dan cairan darah kembali normal.
# Proses laktasi atau menyusui
Proses ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari mengandung hormon penghambat prolaktin (hormon plasenta) yang menghambat pembentukan ASI. Setelah ari-ari lepas, hormon plasenta tersebut tak ada lagi sehingga susu pun keluar. Sempurnanya, ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan. Namun, sebelumnya di payudara sudah terbentuk kolostrum yang bagus sekali untuk bayi, karena mengandung zat kaya gizi dan antibodi pembunuh kuman.

Diambil dari: Tabloid Nakita

Advertisements

About -MamaNino-
-MamaNino- is my nickname, I sedang dalam proses membangun sebuah keluarga kecil yang semoga bahagia..

One Response to Nifas (Tinjauan Medis)

  1. muhammad mikail ghufron says:

    informasi yang menarik. saya sedang menulis buku tentang menstruasi dan nfas. bolehkah saya menggunakan informasi di blog anda ini sebagai data pembanding? terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: