Anakku Bukan ’Peaky Eater’

Alhamdulillah… mulai umur 11 bulan kemaren Nino dah bisa maem pake bubur nasi dan sekarang dah bisa maem apa aja, meskipun giginya baru tumbuh 6. Tadinya cuma bisa maem pake bubur bayi instant, kemasukan makanan kasar dikit langsung muntah. Awalnya sempet takut juga kalo Nino jadi ’peaky eater’, soalnya Nino cuma mau bubur bayi instant yang rasa semur ayam ama sup kacang. Eh, ternyata sekarang makanan apa aja masuk. Yuhuuui…

Apa sih ’Peaky Eater’ itu?

Anak dikatakan sebagai ’peaky eater’ bila ia hanya mau makan makanan itu-itu saja. Makanan baru atau variasi makanan sulit diterimanya. Children Nutritional Research Center, Texas, menyebut anak yang mengonsumsi satu jenis makanan saja dalam waktu yang lama atau peaky eating-nya menetap, juga disebut food jag. Jangan dibiarkan lho kalo anak maunya makan makanan itu-itu aja. Dampak buruknya bagi anak bila jenis makanan itu-itu saja yang dimakan akan membuat anak tidak mendapat aneka zat gizi yang dibutuhkannya. Selain itu, juga berdampak buruk pada selera makan anak. Apalagi tahun2 pertama merupakan dasar pembentukan selera makan pada anak. Kalau seleranya itu2 aja, bisa terus menetap dan akan menyulitkannya beradaptasi dengan makanan baru. Repotnya lagi kalo si anak kita ajak bepergian, kan belum tentu ada makanan yang dia suka. Repot juga kan?

Mengapa bisa ’Peaky Eater’?

Biasanya, hal ini terjadi akibat pemberian makan yang salah. Pada usia-usia pertama mendapat makanan padat, anak sebenarya sedang mengembangkan seleranya akan berbagai rasa. Diberi apapun anak akan menerima dan mencobanya. Kadang ada orag tua yang melihat anaknya begitu lahap dengan makanan tertentu, dan menganggap ia cocok dengan makanan itu saja. Sampai ia terjebak memberinya lagi, memberinya lagi, tahu-tahu si kecil ‘fanatik’ dengan jenis makanan itu-itu saja. Dengan kata lain, pemberian makanan itu sangat besar artinya. Sebab, bila anak sudah terjebak pada makanan yang itu-itu saja, anak akan kehilangan beberapa zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi masa tumbuhkembangnya. Semua orang apalagi anak-anak membutuhkan makanan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Makanan bervariasilah yang harus diterimanya. Dari mulai sayur-sayuran, daging, susu, hingga buah-buahan, harus seimbang. Bila kita terus biarkan, bisa menjurus ke malnutrisi atau kurang gizi. Sebab yang didapatnya hanya satu dua macam gizi saja, zat-zat gizi lainnya tidak terpenuhi. Yang berperan dalam memerangkap selera si kecil menjadi peaky eating adalah cara kita memberinya makanan. Selain kita, orang yang sehari-hari mengasuh anak. Bisa nenek kakeknya, tante omnya, atau pengasuhnya. Tak jarang pengasuh membuatkan makanan yang itu-itu saja. Karena dipikirnya si kecil suka, kenapa harus berubah? Bagaimana pun memberi makanan baru atau berbeda-beda pasti perlu upaya lebih keras. Tapi, apakah kita harus ‘kalah’ dari pengasuhnya, dan membiarkan si kecil jadi malnutrisi? Mulai sekarang, selain membuatkan menu tersendiri, juga intiplah apa yang dimasak pengasuh. Siapa tahu berbeda dari pesanan kita.

Sulit Menerima Perubahan

Anak-anak batita adalah anak-anak yang sulit menerima perubahan. Karena itu kemungkinan menjadi peaky eater sangat mungkin terjadi. Namun ada beberapa pakar yang menyebutkan bahwa, pada suatu saat perut anak akan berubah dan ia akan mencoba-coba makanan baru. Namun penelitian Children Research Center tidak menghasilkan demikian. Justru karena anak sulit menerima perubahan sehingga selera dan perutnya tak mudah bergeser. Membutuhkan waktu lama bila anak sudah menjadi peaky eating. Oleh sebab itu, berikan makanan yang bervariasi, ganti-ganti menu setiap hari, itulah bekalnya dalam memahami dan menerima perubahan.

Menormalkan Selera Makan si Kecil

Sudah terlanjur jadi peaky eater? Bukan berarti terus kita biarkan. Ada cara menormalkannya kok:

1. Gantilah Menu-nya, tapi siap-siaplah menerima penolakannya. Mula-mula pasti anak akan menolaknya, kita harus sabar dan menerimanya. Tetaplah bujuk-rayu ia. Tapi hindari pemaksaan ya.

2. Bila anak tetap menolak, berikan menu lamanya tapi tambahkan dengan variasi lain. Misal semur ayam ditambah wortel dan buncis. Atau telur dadar dengan irisan bayam. Atau semur ayam dengan oseng-oseng sayuran.

3. Perlahan-lahan sisihkan menu lamanya ganti dengan yang baru. Agar anak menerima, suapi anak dengan memberinya aneka mainan. Mainan dapat menyibukkannya sehingga tak memperdulikan makanannya. Tinggal disodorkan sambil bilang “aaaak…”

4. Berikan anak makanan yang lebih bervariasi, berselang-seling, baik yang baru maupun yang telah dikenal anak.

5. Hindarkan memaksa anak menghabiskan makanannya. Baik dengan kata-kata, maupun ancaman psikologis berupa menunjukkan pemukul misalnya.

Demikian, semoga bermanfaat..

Advertisements

About -MamaNino-
-MamaNino- is my nickname, I sedang dalam proses membangun sebuah keluarga kecil yang semoga bahagia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: